Catatan Satire Yusrizal Karana | Penulis : Sekretaris Satupena Lampung

🗣 Untuk mendengar Berita : Silahkan Sorot/Block teks berita

SASARAINAFM | BANDAR LAMPUNG - Bagi yang Lebaran hari ini (Jumat, 20 Maret 2026) enak ya, bisa makan ketupat sayur, pake opor ayam, rendang duluan. Tapi tahu nggak bagaimana ceritanya ketupat itu jadi simbol kebahagiaan saat berlebaran, sampai akhirnya ditawan polisi karena operasi ketupat.


Begini ceritanya. Mulanya, ketupat itu sebenarnya baik-baik saja tinggal di tanah Jawa. Lahir di Jawa, dibimbing oleh para wali, salah satunya adalah Sunan Kalijaga. Hidupnya lurus saja. Lempeng dan selalu jadi simbol untuk saling maaf-memaafkan. Ketupat itu dibungkus janur, direbus lama, lalu disajikan dengan opor ayam yang santun, tidak rewel, dan tidak neko-neko.


Hubungan ketupat dengan opor ayam itu pun seperti pasangan lama, yang sudah saling mengerti, paham satu sama lain. Nggak ada yang aneh, nggak banyak kejutan juga, tapi nyaman. Kuah santan berkilau seperti ada minyak-minyaknya, ayamnya empuk, apalagi kalau ayam kampung yang renyah. Semuanya terasa seperti nasihat nenek: sederhana, tapi bikin tenang dan bahagia.


Lalu datanglah pengaruh dari luar. Dari ranah Minangkabau yang menawarkan rendang. Memang bentuknya nggak jelas. Daging yang potongannya nggak ada aturan. Ada yang panjang, pendek, petak, dan macam-macam bentuknya. Apalagi warnanya hitam, bikin makin nggak jelas. Berbeda dengan saudaranya, opor ayam, yang lebih putih, kinclong seperti peri pulang dari mandi.


Rendang itu, makanan yang tidak hanya dimasak, tapi juga ditempa di atas api yang unyai-unyai. Bumbunya banyak, tidak kurang dari 20 macam rempah ada di dalamnya. Mulai dari daun salam sampai yang lupa salam. Prosesnya pun lama, tapi rasanya sangat dalam. Ibaratnya, kalau opor itu ceramah subuh, maka rendang itu orasi politik: panjang, panas, bikin pegel, tapi meninggalkan kesan mendalam.


Ketupat yang selama ini hidup damai bersama opor ayam berhias bawang goreng, mulai goyah. Dia melihat rendang yang hitam tapi nampak manis dari kejauhan. Maka ketupat pun mulai pedekate dan akhirnya dipertemukan dengan rendang yang hitam manis tapi wangi, seperti duda yang sedang cari pasangan.


Hasilnya? Bikin heboh. Orang Jawa mulai bingung dan heran melihat kelakuan ketupat. Ini ketupat kok jadi berani? Biasanya dia tenang, kalem dan bahagia dalam genangan kuah opor. Tapi sekarang, ia berani melawan lidah dengan rasa yang lebih tajam. Opor ayam yang selama ini setia mendampingi mulai tersisih pelan-pelan. Memang tidak ada keributan, tapi suasana meja makan mulai berubah. Yang biasanya adem, santai, sekarang penuh semangat.


Namun ketupat membuat lompatan yang jauh sekali. Ia tak cuma berselingkuh dengan rendang melainkan juga dengan gulai cubadak (sayur nangka). Bahkan ia tak segan-segan ganti pasangan dengan gulai tauco, dan gulai paku. Si ketupat ini, yang tadinya di bawah bimbingan para wali, kini liar ke mana-mana. Semuanya dia coba.


Yang menarik, orang Minang justru menganggapnya biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Bagi mereka, ketupat sayur itu cuma “kendaraan” doang. Mau jalan bersama rendang, opor ayam ya silakan. Yang penting rendangnya tetap jadi bintang utama.


Maka, banyak orang sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa dalam dunia kuliner, tidak ada yang benar-benar setia. Semua bisa berubah tergantung siapa yang lebih menggoda.


Ketupat yang dulunya sebagai simbol kepatuhan dan kesederhanaan Jawa, sekarang bisa jadi kendaraan rasa Minangkabau yang meledak-ledak. Ini bukan sekadar perpaduan makanan, tapi perpindahan ideologi. Dari “nrimo ing pandum” ke “Tambuah ciek!”


Dan seperti biasa, yang paling bijak bukan yang memilih salah satu, tapi yang mengambil dua-duanya. Di piring yang sama dengan porsi yang tidak tahu diri.


Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. Bagi yang pulang kampung selamat berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung halaman. (*)


Bandar Lampung, 20 Maret 2026