![]() |
| Pengasuh mengajari anak-anak panti berhitung di Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa, Jakarta, Senin (26/1/2026). |
Skor Matematika siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata global. Pendekatan pembelajaran Matematika yang menyenangkan didorong untuk meningkatkan numerasi.
📢 Untuk mendengar berita ini dibacakan, Silahkan sorot seluruh teks
Hari Matematika Internasional yang diperingati setiap 14 Maret jadi pengingat bahwa pelajaran Matematika tidak boleh dipandang menakutkan oleh murid. Belajar Matematika dengan gembira mesti diperkuat untuk memperbaiki angka numerasi Indonesia yang rendah.
Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor numerasi Indonesia hanya 366, sedangkan rata-rata global dalam ukuran Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) adalah 472.
Adapun PISA juga menetapkan tingkat kompetensi minimum pada level 2 atau minimal siswa mampu menafsirkan dan mengenali situasi tanpa instruksi langsung, seperti membandingkan jarak total antara dua rute alternatif atau mengonversi harga ke mata uang yang berbeda.
Pada kenyataannya, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai level 2 dalam Matematika. Artinya, 82 persen siswa lainnya masih berada di bawah tingkat kompetensi minimum.
Sebagai perbandingan, rata-rata negara OECD angka siswa dengan kompetensi level 2 mencapai 69 persen. Hal ini menunjukkan tantangan besar sistem pendidikan Indonesia dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa agar mampu bersaing secara global.
Belajar dengan gembira
Untuk memperbaiki kondisi ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya menghapus stigma pelajaran Matematika yang menakutkan menjadi pelajaran Matematika yang menggembirakan.
Gerakan Nasional Numerasi (GNN) juga perlu diintegrasikan dengan berbagai program penguatan numerasi, seperti Matematika Gembira, Bincang Numerasi, dan Taman Numerasi.
”Matematika Gembira merupakan upaya penting meningkatkan kualitas numerasi sejak dini. Hasil TKA (tes kemampuan akademik) di tingkat SMA masih menunjukkan ada tantangan yang perlu direspons melalui intervensi lebih awal dan sistematis,” kata Direktur Guru Pendidikan Dasar di Kemendikdasmen Rachmadi Widdiharto, Sabtu (14/3/2026).
Matematika memberi kita harapan.
Pembelajaran Matematika Gembira dimulai dengan mengajak murid memahami konsep melalui pengalaman nyata sebelum beralih ke abstraksi. Guru tidak boleh lagi memulai dari rumus, tetapi dari konteks yang dekat murid, seperti benda di kelas, lingkungan sekitar, hingga permainan sederhana, seperti melempar bola atau membuat pola.
Dengan pendekatan ini, rasa takut murid pada Matematika perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu karena mereka belajar dari hal yang mereka kenal dan alami sendiri. Cara mengajar ini sudah diterapkan para guru Matematika masa kini, misalnya oleh Tri Susilawati di SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta.
”Di sekolah kami, numerasi dikemas melalui taman-taman numerasi di lingkungan sekolah, dengan hiasan di tembok ataupun lantai. Dengan begitu, anak-anak tidak merasa bosan, guru pun lebih mudah membuat pembelajaran menarik di luar kelas,” ungkap Tri.
Beberapa sekolah lain juga mengajarkan numerasi melalui permainan tradisional yang dikaitkan dengan budaya lokal sehingga dekat dengan kehidupan anak. Sebagai contoh, belajar mengurutkan bilangan sambil bermain eklek yang diwarnai angka-angka.
Praktik baik semacam ini harus terus diduplikasi, tidak hanya di satuan pendidikan, tetapi juga di taman-taman tempat bermain anak. Gerakan numerasi nasional harus semakin digencarkan untuk mengatasi ketertinggalan yang sudah darurat.
Sepanjang tahun 2025, Direktorat Guru Pendidikan Dasar telah melatih 302 fasilitator nasional dari semua provinsi di Indonesia. Para fasilitator ini memiliki peran strategis dalam melatih guru-guru di wilayah masing-masing.
Meski program ini tergolong baru, lanjut Rachmadi, para guru yang dilatih sudah menerapkan pendekatan pembelajaran Matematika dengan menyenangkan dan bermakna. Pengembangan materi pembelajaran berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat diterapkan pada berbagai tingkat kognitif peserta didik.
Pada 2026, program ini diperluas melalui pelatihan bagi calon fasilitator nasional baru serta pelatihan Matematika Gembira di semua provinsi. Melalui mekanisme pelatihan berjenjang, peningkatan kemampuan numerasi diharapkan berjalan sistematis, berkelanjutan, dan menjangkau lebih banyak guru.
Matematika dan harapan
Adapun Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan ”Mathematics and Hope” (Matematika dan Harapan) sebagai tema Hari Matematika Internasional tahun 2026. Ini mencerminkan gagasan Matematika seperti harapan karena termasuk hal paling universal bagi semua orang.
”Matematika memberi kita harapan untuk memahami realitas dan kebenaran dengan jelas, berbagi definisi bersama, belajar kerja sama, memakai data secara bertanggung jawab, menemukan strategi saling menguntungkan, dan banyak lagi,” ucap Betul Tanbay, Ketua Dewan Pengurus International Mathematical Union-International Day of Mathematics.
Betul menegaskan, Matematika dapat menjadi bekal menghadapi ketidakpastian, membangun kepercayaan pada pengetahuan, dan membayangkan masa depan berkelanjutan. Selain mendorong kemajuan ilmiah dan teknologi, Matematika juga berkontribusi pada kohesi dan ketahanan sosial.
Dengan kolaborasi dan kepercayaan itu, pemikiran matematis bisa mendorong masyarakat yang lebih adil dan kooperatif. Sejalan dengan mandatnya, UNESCO mendorong siswa dan pendidik di seluruh dunia untuk menjadikan Matematika sebagai alat untuk pemahaman, kerja sama, dan harapan.





0Komentar