Notification

×

Iklan


 

Iklan

Dari Galon Bekas Jadi Lumbung Pangan, Warga Gunungkidul Sulap Pekarangan Sempit Panen Padi

Kamis, 02 Juli 2026 | Juli 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-02T15:18:23Z

Penampakan ratusan galon disulap jadi media tanam padi milik Dukuh Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul, Susanto. Foto: dok. Dukuh Ngelorejo Susanto

SASARAINAFM.MY.ID | GUNUNG KIDULKeterbatasan lahan ternyata bukan lagi penghalang untuk menghasilkan pangan. Seorang warga Dusun Ngelorejo, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, berhasil membuktikan bahwa ratusan galon air mineral bekas dapat disulap menjadi media tanam padi yang produktif.


Adalah Susanto (44), atau yang akrab disapa Santo Mboso, yang sukses memanfaatkan pekarangan rumah seluas sekitar 10 meter persegi menjadi hamparan tanaman padi dalam galon bekas. Inovasi sederhana namun kreatif itu kini mulai menarik perhatian masyarakat karena dinilai murah, mudah diterapkan, dan mampu menghasilkan panen.


Menurut Santo, ide tersebut lahir dari keinginannya mengedukasi masyarakat bahwa bercocok tanam tidak harus memiliki sawah yang luas atau modal besar.


"Tujuan saya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa dengan biaya semurah mungkin kita tetap bisa menanam padi. Misalnya, lahan 10 meter persegi bisa diisi sekitar seribu galon. Jika membeli sawah membutuhkan biaya sekitar Rp15 hingga Rp20 juta, menggunakan galon bekas hanya membutuhkan sekitar Rp2 juta ditambah tanah sekitar Rp1 juta. Jauh lebih terjangkau," ujarnya.


Inspirasi tersebut muncul setelah melihat unggahan Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang menanam tanaman menggunakan galon di rumah dinasnya. Sejak saat itu, Santo mulai mengumpulkan galon bekas dan mengubah lahan kosong miliknya menjadi area pertanian mini.


Selama kurang lebih empat bulan, ia berhasil mengumpulkan sekitar 1.200 galon bekas. Namun karena keterbatasan lahan, hanya 840 galon yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam.


Setiap galon diisi tanah kemudian ditanami benih padi varietas Ciherang. Penanaman dimulai pada akhir Maret 2026 dan kini hasilnya mulai dapat dipanen.


Menariknya, metode tanam menggunakan galon ini juga dinilai lebih hemat air dibandingkan sistem persawahan konvensional. Tanaman tidak harus disiram setiap hari, sementara pengendalian pupuk dan hama dapat dilakukan lebih mudah karena setiap tanaman berada dalam wadah terpisah.


Hasil panennya pun cukup menjanjikan. Dari pengamatan sementara, setiap galon mampu menghasilkan sekitar 100 gram gabah.


"Sebagian sudah dipanen, bahkan kemarin dipanen bersama Ibu Bupati. Hasilnya cukup bagus, kemungkinan karena pemupukan dan pengendalian hama bisa dilakukan lebih optimal. Nanti masih akan kami lakukan sampling lagi untuk memastikan hasil per galonnya," jelas Santo.


Inovasi tersebut kini mulai menginspirasi warga sekitar. Meski belum seluruhnya menanam padi, banyak masyarakat mulai memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam sayuran di pekarangan rumah mereka.


Bagi Santo, hal itu sudah menjadi keberhasilan tersendiri. Menurutnya, yang terpenting adalah masyarakat mulai memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif, terutama di wilayah Gunungkidul yang masih memiliki banyak pekarangan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.


Melalui kreativitas sederhana ini, Santo menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari halaman rumah. Dengan memanfaatkan barang bekas yang selama ini dianggap limbah, ia berhasil menghadirkan solusi pertanian hemat biaya sekaligus menginspirasi masyarakat untuk lebih produktif dalam mengelola lahan sempit.(de'dio)


 

SASARAINA TV

Live Streaming

LIVE
Watching now
×
Berita Terbaru Update