![]() |
| Foto Ilustrasi |
Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai codependency atau hubungan yang dipenuhi ketergantungan emosional. Sekilas hubungan seperti ini tampak harmonis karena kedua pasangan terlihat sangat dekat. Namun, di balik kedekatan tersebut, salah satu atau bahkan keduanya bisa kehilangan kemandirian dan ruang untuk berkembang sebagai individu.
Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan identitas dirinya. Justru, masing-masing pasangan tetap memiliki kehidupan pribadi, hobi, dan lingkaran pertemanan di luar hubungan.
Berikut lima tanda hubungan codependent yang patut diwaspadai.
1. Tidak Bisa Menikmati Waktu Tanpa Pasangan
Merasa rindu ketika pasangan tidak ada merupakan hal yang wajar. Namun, jika setiap kali berjauhan kamu merasa cemas, gelisah, atau kehilangan semangat menjalani aktivitas, itu bisa menjadi tanda ketergantungan emosional.
Psikolog klinis Maggie Dancel menjelaskan bahwa hubungan romantis hanyalah salah satu bagian dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan hidupnya.
"Dalam hubungan yang sehat, setiap orang memahami pentingnya memelihara kehidupannya sendiri, seperti menghabiskan waktu dengan teman atau menjalani hobi yang disukai," ujar Dancel, seperti dikutip dari SELF Magazine, Kamis (25/6/2026).
Ketika pasangan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan, seseorang berisiko kehilangan jati diri dan kehidupan sosialnya.
2. Merasa Bertanggung Jawab atas Semua Perasaan Pasangan
Apakah kamu selalu merasa harus membuat pasangan bahagia, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan sendiri?
Menurut psikolog Sabrina Romanoff, kondisi tersebut merupakan salah satu ciri hubungan yang terlalu bergantung secara emosional.
"Ketika pasangan bahagia, kamu merasa aman. Namun ketika mereka tidak bahagia, dunia kamu bisa terasa ikut berantakan," jelas Romanoff.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan memang saling mendukung, tetapi bukan berarti harus memikul seluruh beban emosi satu sama lain.
3. Rasa Percaya Diri Bergantung pada Validasi Pasangan
Merasa sedih karena pasangan terlambat membalas pesan sesekali memang normal. Namun, jika harga diri sepenuhnya bergantung pada perhatian, pujian, atau pengakuan dari pasangan, hal itu patut diwaspadai.
Seseorang yang mengalami codependency biasanya terus-menerus mencari kepastian bahwa dirinya dicintai dan dihargai. Akibatnya, kepercayaan dirinya naik turun mengikuti respons pasangan.
Padahal, rasa percaya diri yang sehat berasal dari penghargaan terhadap diri sendiri, bukan semata-mata dari validasi orang lain.
4. Selalu Mengalah karena Takut Ditinggalkan
Kompromi merupakan bagian penting dalam sebuah hubungan. Namun berbeda jika kamu selalu mengorbankan kenyamanan pribadi hanya karena takut pasangan kecewa atau memilih pergi.
Misalnya, terus mengikuti aktivitas yang sebenarnya tidak disukai, enggan menyampaikan pendapat, atau memilih diam saat diperlakukan tidak adil.
Romanoff mengingatkan bahwa terus mengabaikan batasan pribadi dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional dan perlahan kehilangan jati dirinya.
5. Tidak Percaya Diri Mengambil Keputusan Sendiri
Meminta pendapat pasangan tentu bukan hal yang salah. Namun, bila setiap keputusan kecil harus mendapat persetujuan mereka—mulai dari memilih pakaian, menentukan rencana akhir pekan, hingga mengambil keputusan sehari-hari—hal itu bisa menjadi sinyal ketergantungan emosional.
Menurut Dancel, kondisi tersebut menunjukkan seseorang mulai kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri.
Ketika hubungan berubah menjadi tempat untuk meminta izin menjalani hidup, bukan sekadar berbagi kehidupan, maka codependency kemungkinan sudah berkembang terlalu jauh.
Hubungan Sehat Tetap Memberi Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Mencintai pasangan bukan berarti harus kehilangan kemandirian. Hubungan yang sehat justru memberi ruang bagi masing-masing individu untuk tumbuh, mengejar tujuan pribadi, menjaga pertemanan, dan tetap menjadi diri sendiri.
Kedekatan emosional memang penting, tetapi akan jauh lebih kuat jika dibangun di atas dua pribadi yang saling mendukung tanpa saling bergantung secara berlebihan. Dengan menjaga keseimbangan antara cinta dan kemandirian, hubungan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang secara sehat dalam jangka panjang.


