![]() |
| Foto Ilustrasi |
Melalui proyek daur ulang teknologi ini, perangkat smartphone bekas tidak langsung dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai mesin komputasi untuk menjalankan berbagai kebutuhan digital.
Menurut tim peneliti, memperpanjang usia pakai perangkat elektronik menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi dampak lingkungan. Pasalnya, setiap smartphone memiliki jejak karbon dari proses produksi, mulai dari penambangan bahan baku hingga pembuatan komponen.
Alih-alih menjadi limbah, perangkat lama masih menyimpan kemampuan komputasi yang cukup besar.
Hasil pengujian menunjukkan, smartphone berusia sekitar tiga tahun masih mampu mencatatkan performa single-core yang lebih tinggi dibandingkan beberapa prosesor server data center tertentu dalam pengujian SPEC benchmark.
Dalam penelitian tersebut, perangkat Pixel dibandingkan dengan sejumlah prosesor server kelas tinggi. Walaupun server modern tetap unggul secara keseluruhan, hasil penelitian membuktikan bahwa smartphone bekas masih dapat menjalankan tugas komputasi jika dirancang dengan sistem yang tepat.
“Perangkat yang sudah tidak digunakan masih memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan kembali, terutama untuk kebutuhan komputasi ringan hingga menengah,” ungkap tim peneliti dalam proyek tersebut.
Untuk mengubah smartphone menjadi server mini, para peneliti melakukan proses modifikasi dengan melepas sejumlah komponen yang tidak dibutuhkan, seperti layar, baterai, kamera, speaker, hingga bagian rangka.
Komponen utama yang dipertahankan adalah motherboard yang berisi sistem utama smartphone atau System-on-Chip (SoC). Setelah itu, sistem operasi Android diganti menggunakan Linux agar perangkat dapat bekerja layaknya server dengan dukungan teknologi seperti Kubernetes.
Hasil eksperimen menunjukkan, sekitar 25 hingga 50 smartphone bekas mampu menghasilkan kemampuan komputasi yang mendekati satu prosesor server dual-socket.
Tidak hanya sekadar uji coba, teknologi ini juga mulai diterapkan untuk kebutuhan pendidikan. UCSD mengungkapkan, klaster yang terdiri dari sekitar 20 smartphone bekas sudah cukup untuk menjalankan aplikasi pembelajaran yang digunakan oleh lebih dari 75 mahasiswa.
Dengan cara ini, institusi pendidikan dapat mengurangi ketergantungan terhadap layanan cloud yang membutuhkan biaya besar.
Ke depan, para peneliti bahkan berencana membangun pusat data lokal menggunakan sekitar 2.000 smartphone bekas yang ditargetkan mampu mendukung kebutuhan ratusan kelas secara bersamaan.
Selain lebih ramah lingkungan, konsep ini juga dianggap relevan di tengah meningkatnya harga komponen server, terutama chip memori dan penyimpanan.
Meski demikian, teknologi ini belum ditujukan untuk menggantikan pusat data raksasa milik perusahaan teknologi besar. Operator hyperscale membutuhkan perangkat khusus dengan tingkat keandalan tinggi dan kemampuan pengelolaan dalam skala sangat besar.
Namun, bagi kampus, laboratorium riset, sekolah, dan organisasi kecil dengan keterbatasan anggaran, smartphone bekas bisa menjadi solusi alternatif untuk menghadirkan infrastruktur digital yang lebih murah dan berkelanjutan.
Inovasi ini menunjukkan bahwa perangkat lama tidak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan teknologi dan pendekatan yang tepat, ponsel yang pernah berada di genggaman manusia masih bisa menjadi bagian dari masa depan komputasi.(de'dio)


