![]() |
| Mudah Marah dan Sulit Fokus? Bisa Jadi Penyebabnya Bukan Stres, Melainkan Kurang Minum Air (Foto Ilustrasi) |
Dehidrasi bukan hanya membuat tenggorokan terasa kering atau memicu rasa haus. Kekurangan cairan juga dapat memengaruhi cara kerja otak, sehingga berdampak pada konsentrasi, produktivitas, hingga kestabilan emosi.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Cut Hafiah, Sp.GK, menjelaskan bahwa air memiliki peran penting dalam menjaga fungsi organ tubuh, termasuk otak yang mengatur kemampuan berpikir dan suasana hati.
Otak Sulit Bekerja Optimal Saat Tubuh Kekurangan Cairan
Menurut dr. Cut, salah satu dampak paling awal dari dehidrasi adalah menurunnya kemampuan berkonsentrasi. Hal itu terjadi karena otak membutuhkan asupan cairan yang cukup agar dapat menjalankan fungsinya secara maksimal.
"Kekurangan cairan bisa membuat seseorang kurang fokus beraktivitas, karena fungsi utama cairan itu selain untuk saluran cerna juga untuk otak," ujar dr. Cut dalam Media Gathering Hari Hidrasi Nasional AQUVIVA di Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).
Ketika konsentrasi mulai menurun, seseorang akan lebih mudah melakukan kesalahan, membutuhkan waktu lebih lama menyelesaikan pekerjaan, hingga merasa cepat lelah saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Dampaknya tidak hanya dirasakan saat bekerja, tetapi juga ketika belajar, mengemudi, atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan perhatian penuh.
Dehidrasi Bisa Membuat Mood Berantakan
Tak hanya memengaruhi kemampuan berpikir, kekurangan cairan juga berpotensi mengubah kondisi emosional seseorang.
Menurut dr. Cut, ketika tubuh tidak bekerja secara optimal akibat dehidrasi, aktivitas sehari-hari menjadi terasa lebih berat. Kondisi tersebut akhirnya ikut memengaruhi suasana hati.
"Tentu kurang cairan bisa memengaruhi kondisi mood seseorang, karena pada saat kita kurang fokus dan tidak bisa melakukan aktivitas harian dengan lancar, maka akan mengganggu mood dan hormon," jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu penyebabnya adalah terganggunya keseimbangan hormon yang berperan mengatur emosi, termasuk hormon serotonin.
"Hormon dalam tubuh, salah satunya untuk memperbaiki mood yaitu hormon serotonin, bisa terganggu sehingga seseorang menjadi lebih moody," kata dr. Cut.
Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih mudah tersinggung, kurang sabar, atau mengalami perubahan emosi yang lebih cepat dari biasanya.
Meski demikian, dr. Cut mengingatkan bahwa suasana hati tidak hanya dipengaruhi oleh hidrasi. Faktor lain seperti kualitas tidur, tingkat stres, kondisi kesehatan, dan pola hidup juga memiliki peran penting.
Jika Dibiarkan, Dehidrasi Bisa Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
Dampak dehidrasi tidak berhenti pada gangguan konsentrasi dan perubahan suasana hati. Jika berlangsung dalam waktu lama, kekurangan cairan dapat menurunkan kemampuan tubuh menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Itulah mengapa kalau kita sedang kekurangan cairan di tubuh jadi terhambat aktivitas hariannya," ujar dr. Cut.
Kondisi ini akan semakin berat apabila tubuh juga mengalami kekurangan elektrolit. Padahal, elektrolit berperan penting dalam menjaga fungsi otot dan sistem saraf.
"Efeknya kalau dehidrasi dalam waktu yang panjang itu aktivitas harian terganggu, tidak bisa berkonsentrasi, hingga badan akan terasa kaku. Kekurangan elektrolit membuat tubuh tidak bisa menjalankan fungsinya dengan optimal," tambahnya.
Kebiasaan Sederhana yang Berdampak Besar
Menjaga tubuh tetap terhidrasi bukan hanya soal menghilangkan rasa haus. Memenuhi kebutuhan cairan setiap hari membantu menjaga fungsi otak, mempertahankan keseimbangan hormon, mendukung kerja otot dan saraf, sekaligus menjaga produktivitas.
Karena itu, jangan menunggu hingga merasa haus untuk mulai minum. Membiasakan diri mengonsumsi air putih secara rutin merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan fisik sekaligus kestabilan suasana hati sepanjang hari.


