![]() |
| Cahaya Kunang-Kunang Mulai Menghilang, Alarm Bahaya bagi Kesehatan Lingkungan (Foto Ilustrasi ) |
Para ahli menyebut hilangnya kunang-kunang sebagai peringatan dini atas rusaknya keseimbangan ekosistem. Dosen sekaligus peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang mampu menunjukkan tingkat kesehatan suatu lingkungan.
Menurutnya, ketika kualitas lingkungan mengalami penurunan, populasi kunang-kunang menjadi salah satu yang paling cepat terdampak. Keberadaan mereka akan terus menyusut bahkan bisa menghilang sepenuhnya apabila kerusakan habitat tidak segera dihentikan.
Masalah ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang di dunia kini masuk dalam kategori terancam punah. Bahkan, sejumlah spesies yang hidup di kawasan hutan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah berstatus rentan.
Penyebab utama terus menurunnya populasi kunang-kunang adalah hilangnya habitat alami. Alih fungsi lahan hijau, rawa, persawahan, hingga kawasan mangrove menjadi permukiman dan kawasan industri membuat ruang hidup serangga bercahaya ini semakin sempit.
Tak hanya itu, polusi cahaya juga menjadi ancaman yang sering luput dari perhatian. Lampu LED yang terlalu terang mengganggu komunikasi alami antar kunang-kunang. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan menangkap sinyal cahaya yang dipancarkan betina sehingga proses berkembang biak menjadi terganggu.
Ancaman lainnya datang dari penggunaan insektisida kimia secara berlebihan, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga pesatnya urbanisasi yang terus mengubah bentang alam menjadi kawasan perkotaan.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya hilang. Kunang-kunang masih dapat dijumpai di sejumlah kawasan yang kondisi lingkungannya tetap terjaga, seperti hutan mangrove, rawa alami, tepian sungai yang bersih, persawahan tradisional, perkebunan organik, serta lantai hutan tropis yang lembap dan minim pencemaran cahaya.
Para peneliti mengingatkan, apabila kerusakan lingkungan terus berlangsung tanpa upaya pelestarian, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal kunang-kunang dari gambar di buku pelajaran, museum, atau tayangan dokumenter, tanpa pernah menyaksikan keindahan cahayanya secara langsung di alam.
Karena itu, menjaga keberadaan kunang-kunang sesungguhnya berarti menjaga kualitas lingkungan tempat manusia hidup. Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan lampu luar yang berlebihan, mempertahankan ruang hijau di sekitar rumah, menggunakan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air dapat menjadi kontribusi nyata dalam melindungi habitat serangga mungil yang selama ini menjadi simbol alam yang sehat.(de'dio)


