Notification

×

Iklan


 

Iklan

Indonesia Bidik Kekuatan Ekonomi Digital Dunia Tanpa Meninggalkan Jati Diri Bangsa

Selasa, 07 Juli 2026 | Juli 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-07T06:18:18Z

Menkomdigi Meutya Hafid didampingi Wamenkomdigi Nezar Patria saat melakukan pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, Selasa (30/06/2026). Foto: Ahmad Tri Hawaari/Komdigi

SASARAINAFM.MY.ID | JAKARTA – Ambisi Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital dunia tidak hanya diukur dari besarnya nilai transaksi maupun pesatnya perkembangan teknologi. Pemerintah menegaskan bahwa kemajuan digital harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya nasional dan penguatan karakter generasi muda.


Komitmen tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).


Menurut Meutya, Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global. Dengan sekitar 230 juta pengguna internet atau hampir 80 persen dari total penduduk, Indonesia saat ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi digital di kawasan ASEAN dengan kontribusi sekitar sepertiga dari total ekonomi digital regional.


Namun, besarnya potensi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan ruang digital yang sehat, aman, produktif, serta tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan.


"Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi digital dunia. Namun pertumbuhan itu akan jauh lebih bermakna jika di saat yang sama kita mampu menjaga anak-anak kita, memperkuat karakter generasi muda, dan memastikan budaya bangsa tetap hidup," ujar Meutya.


Ia menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata. Teknologi, menurutnya, harus menjadi sarana untuk memperkuat identitas nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kekayaan budaya Indonesia.


Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital terus memperkuat implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini menjadi fondasi dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.


Meutya menjelaskan bahwa ruang digital harus mampu memberikan keseimbangan antara aktivitas di dunia maya dan kehidupan nyata, termasuk mendorong anak-anak untuk mengenal permainan tradisional, seni, budaya, serta memperkuat interaksi sosial di lingkungan keluarga.


"Ruang digital harus menjadi ruang yang aman, sehat, dan produktif. Anak-anak perlu mendapatkan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata, termasuk ruang untuk mengenal permainan tradisional, seni, budaya, serta interaksi yang sehat di lingkungan keluarga," katanya.


Menkomdigi Meutya Hafid didampingi Wamenkomdigi Nezar Patria saat melakukan pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, Selasa (30/06/2026). Foto: Ahmad Tri Hawaari/Komdigi

Selain memperkuat perlindungan anak di ruang digital, pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi etika kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) beserta peta jalan nasional pengembangan AI.


Kebijakan tersebut dirancang agar pemanfaatan AI di Indonesia berlangsung secara bertanggung jawab, inklusif, dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat. Di sisi lain, perkembangan AI juga dinilai dapat menjadi peluang besar untuk mempercepat digitalisasi warisan budaya, memperluas edukasi kebudayaan, hingga mempromosikan kekayaan budaya Indonesia ke tingkat internasional.


"Teknologi dan budaya bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru ketika keduanya berjalan beriringan, kita bisa menciptakan masa depan digital yang lebih kuat, inklusif, dan berkarakter," ungkap Meutya.


Ia menambahkan, keberhasilan transformasi digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara inovasi, perlindungan masyarakat, dan pelestarian nilai-nilai budaya bangsa.


"Transformasi digital yang berhasil adalah transformasi yang menghadirkan ekonomi yang tumbuh, anak-anak yang terlindungi, dan budaya bangsa yang semakin kuat. Itulah fondasi menuju Indonesia yang maju, berdaulat secara digital, dan tetap berakar pada jati dirinya," tutup Meutya. (de'dio)


 

🎬 SASARAINA TV

Tekno

×
Berita Terbaru Update