![]() |
| Foto Ilustrasi |
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 4,70 persen, angka yang berada di atas sasaran inflasi nasional.
Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, mengatakan lonjakan inflasi dipicu oleh dua kelompok pengeluaran utama, yakni sektor transportasi serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
"Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum dengan andil mencapai 2,54 persen," ujar Nurul Hasanudin, Rabu, 1 Juli 2026.
Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM non-subsidi. Penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp17.000 per liter dan Pertamax Turbo menjadi Rp21.650 per liter sejak 10 Juni 2026 mendorong naiknya biaya transportasi dan turut menyumbang inflasi sebesar 0,14 persen.
Tak hanya itu, kenaikan tarif angkutan udara juga ikut memperbesar tekanan terhadap inflasi selama Juni, terutama menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat.
Di sektor pangan, cabai merah kembali menjadi komoditas yang paling banyak menyumbang kenaikan harga. Fluktuasi pasokan di pasaran menyebabkan harga cabai melonjak dan memberikan kontribusi terhadap inflasi bulanan yang nilainya sama besar dengan kenaikan harga bensin, yakni 0,14 persen.
BPS juga mencatat seluruh daerah yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen atau IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi secara bulanan (month to month).
Kabupaten Pasaman Barat menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 1,01 persen, disusul Kabupaten Dharmasraya 0,61 persen, Kota Padang 0,36 persen, dan Kota Bukittinggi 0,35 persen.
Sementara itu, secara tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Sumatera Barat. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 7,76 persen dengan kontribusi kumulatif mencapai 2,54 persen terhadap inflasi umum.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas harga, terutama pada sektor pangan dan energi, masih menjadi tantangan penting bagi pemerintah daerah. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan dapat mengelola pengeluaran secara lebih bijak di tengah meningkatnya biaya hidup yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. (de'dio)


