Notification

×

Iklan


 

Iklan

Kapurut, Jejak Kehidupan yang Masih Mengepul dari Dapur Mentawai

Kamis, 23 Juli 2026 | Juli 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-23T00:27:10Z


Senja baru saja turun di Dusun Sirilanggai, Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Selasa (30/6/2026). Di dapur sederhana yang diterangi cahaya tungku kayu bakar, tangan Keisha Sapondoro bergerak lincah menggulung adonan tepung sagu ke dalam lembaran daun sagu sepanjang sekitar 40 sentimeter. Sedikit garam ditaburkan, lalu gulungan-gulungan itu disusun rapi di atas bara.


Tak sampai setengah jam, aroma khas daun sagu yang terbakar memenuhi ruangan. Malam itu, sekitar 20 batang kapurut tersaji di meja makan, menemani lauk ikan hasil tangkapan. Rasanya gurih, dengan harum daun sagu yang menyatu dalam setiap gigitan. Sederhana, tetapi menghadirkan kehangatan yang sulit ditemukan pada makanan lain.


Di sebagian besar wilayah Indonesia, nasi telah menjadi pangan pokok yang nyaris tak tergantikan. Namun, di pedalaman Mentawai, kapurut masih bertahan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat setempat, makanan berbahan dasar sagu itu bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan warisan budaya yang menghubungkan manusia dengan hutan yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan.


Kapurut yang sedang dibakar.( Foto : Novia Harlina/Mongabay Indonesia )

Bagi Keisha, kapurut adalah makanan yang membesarkannya. Ia masih mengingat masa ketika beras belum menjadi santapan utama masyarakat di kampungnya.


"Dulu sebelum ada beras, kami makan sagu, keladi, dan ubi," kenangnya.


Hingga kini, ia masih rutin mengolah sagu, terutama ketika keluarga menikmati lauk ikan.


"Kalau ada ikan, saya masak sagu. Lebih enak makan kapurut pakai ikan daripada makan nasi," ujarnya sambil tersenyum.


Menurut Keisha, sagu juga memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan nasi.


Kapurut bukan satu-satunya olahan sagu yang dikenal masyarakat Mentawai. Ada pula kombong, adonan tepung sagu yang dimasukkan ke dalam batang bambu lalu dibakar hingga matang.


"Kalau mau bikin kombong, bambunya tinggal ambil di ladang," katanya.



Melimpahnya pohon sagu di hutan maupun di lahan milik warga membuat bahan bakunya relatif mudah diperoleh. Selain mengolah sendiri batang sagu, masyarakat juga dapat membeli tepung sagu yang telah diproses oleh warga lain.


Bagi Keisha, memilih sagu juga merupakan keputusan ekonomi. Harga satu karung tepung sagu seberat sekitar 10 kilogram hanya berkisar Rp60.000, jauh lebih murah dibandingkan beras dengan berat yang sama yang bisa mencapai dua kali lipat.


Meski demikian, perubahan perlahan mulai terlihat di meja makan keluarganya.


"Anak-anak sekarang lebih suka makan nasi. Sudah tidak mau lagi makan sagu. Kalau kami yang tua-tua ini masih suka makan sagu. Lebih enak dan lebih tahan kenyang," tuturnya.


Dari Pangan Leluhur Menjadi Simbol Masa Lalu


Perubahan pola konsumsi masyarakat Mentawai bukanlah proses yang terjadi dalam semalam. Pergeseran dari sagu menuju beras telah berlangsung sejak dekade 1970-an.


Penelitian Ade Irwandi dan Kris Irwandi Saleleubaja dalam Jurnal Masyarakat Indonesia Volume 47 Nomor 2 Tahun 2021 berjudul Dari Sagu ke Beras: Perubahan Kehidupan Sosial Budaya Orang Mentawai mencatat bahwa berbagai program pembangunan pemerintah kala itu, seperti pencetakan sawah dan distribusi beras, mendorong masyarakat meninggalkan pangan tradisional.


Beras kemudian dipromosikan sebagai simbol kemajuan dan kesejahteraan. Sebaliknya, sagu perlahan dipersepsikan sebagai makanan masyarakat yang belum maju.


Padahal, jauh sebelum beras dikenal luas, sagu telah menjadi pusat kehidupan masyarakat Mentawai. Bukan hanya karena mudah diperoleh dari hutan, tetapi juga karena seluruh sistem sosial dan budaya berkembang bersama pohon sagu.


Dalam sistem kepercayaan Arat Sabulungan, sagu memiliki kedudukan penting. Kehadirannya melekat dalam berbagai ritual adat, upacara perkawinan, hingga pandangan kosmologi masyarakat.


Karena itu, ketika masyarakat mulai meninggalkan sagu, yang berubah bukan sekadar isi piring makan mereka. Yang ikut bergeser adalah praktik budaya yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.


Perubahan juga tampak pada bentang alam Mentawai. Sebagian kawasan sagu mulai beralih fungsi menjadi sawah maupun lahan tanaman komoditas.


Padahal, menurut penelitian tersebut, kondisi ekologis Mentawai yang didominasi rawa, tanah gambut, dan curah hujan tinggi tidak sepenuhnya sesuai untuk pengembangan padi sawah seperti di Pulau Jawa atau Sumatera daratan.


Para peneliti mengingatkan, jika kecenderungan itu terus berlangsung, yang terancam bukan hanya ketahanan pangan lokal, melainkan juga identitas budaya masyarakat Mentawai.


Temuan tersebut diperkuat penelitian Samantha M. Lee dan tim dalam Ethnobotany Research and Applications (2021) berjudul The Indigenous Uses of Plants from Siberut, Mentawai, Indonesia.


Melalui wawancara dengan masyarakat adat di Pulau Siberut, penelitian itu mencatat sekitar 50 persen spesies tumbuhan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari pangan, obat-obatan, bahan bangunan, perlengkapan rumah tangga, alat berburu hingga kebutuhan ritual adat.


Rolan T Sitanduk usai mengambil daun pohon sagu untuk atap rumahnya di Desa Malancan, Kabupataen Kepulauan Mentawai. { Foto : Novia Harlina/Mongabay Indonesia ).

Di antara seluruh tumbuhan tersebut, sagu (Metroxylon sagu) menempati posisi paling penting.

Bukan hanya empulur batangnya yang menjadi bahan pangan, tetapi hampir seluruh bagian pohon dimanfaatkan. Daunnya menjadi atap rumah sekaligus pembungkus kapurut, pelepahnya digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, sementara bagian lainnya dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Satu batang sagu mampu menopang banyak aspek kehidupan masyarakat.


Penelitian itu juga menunjukkan bahwa 98 persen responden menilai pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan harus terus diwariskan karena menjadi penyangga kehidupan masyarakat adat.


Namun modernisasi, perubahan gaya hidup, dan semakin berkurangnya ketergantungan terhadap hutan mulai mengancam pengetahuan tersebut.


Perubahan itu juga dirasakan masyarakat Desa Malancan.


Tokoh masyarakat Mentawai, Barnabas Saerejen, mengenang masa ketika hutan di sekitar kampung menjadi sumber berbagai hasil hutan seperti manau dan rotan halus yang dijual untuk menambah penghasilan keluarga.


"Banyak manau yang mati tertimpa kayu. Sekarang sudah susah mencarinya," katanya.


Menurut Barnabas, perubahan mulai terasa setelah aktivitas penebangan kayu oleh perusahaan memasuki kawasan hutan di sekitar kampung.


Bagi masyarakat Mentawai, hilangnya hasil hutan bukan sekadar berkurangnya sumber ekonomi.


Hutan merupakan ruang hidup yang menyediakan pangan, bahan bangunan, obat-obatan, hingga kebutuhan adat. Ketika hutan berubah, cara hidup masyarakat pun ikut berubah.


Karena itu, menjaga hutan bagi masyarakat Mentawai bukan hanya berarti melindungi pepohonan, tetapi juga mempertahankan makanan, pengetahuan, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.


Keisha sedang membakar kapurut di rumahnya Desa Malancan, Siberut Utara Kepulauan Mentawai. ( Foto : Novia Harlina/Mongabay Indonesia.)

Sagu yang Masih Menghidupi


Meski beras kini mendominasi meja makan banyak keluarga, sagu belum benar-benar ditinggalkan.


Di Dusun Sirilanggai, sebagian warga masih mengolahnya, baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun sebagai sumber penghasilan.


Salah satunya Rolan T. Sitanduk. Di sela pekerjaannya mencari kayu, pria berusia 47 tahun itu masih rutin mengolah batang sagu menjadi tepung.


Baginya, sagu bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sumber nafkah.


"Dijual juga, tapi untuk makan sehari-hari juga. Sama seperti beras, ini makanan kami sehari-hari," ujarnya.


Menurut Rolan, satu batang sagu yang telah tua mampu menghasilkan sekitar 15 hingga 17 karung tepung sagu. Setiap karung berisi sekitar 10 kilogram dijual dengan harga rata-rata Rp60.000.


Sebagian hasil produksi disimpan untuk kebutuhan keluarga, sementara sisanya dijual kepada warga lain.


Proses pengolahannya masih dilakukan secara tradisional. Batang sagu ditebang, dipotong, diparut, diperas untuk mengambil pati, kemudian diendapkan dan dikeringkan hingga menjadi tepung.


Seluruh tahapan itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.


"Kalau manual, kira-kira dua minggu baru dapat satu karung," kata Rolan.


Selain menjual tepung, keluarganya juga mengolah sagu menjadi kapurut yang dijual sekitar Rp10.000 per bungkus.


Tak ada bagian pohon sagu yang terbuang. Daunnya menjadi pembungkus makanan sekaligus atap rumah yang lebih sejuk dibandingkan seng, pelepahnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, sementara batangnya menjadi sumber pangan.


Bagi masyarakat Mentawai, satu pohon sagu bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah penyangga ekonomi, penjaga tradisi, sekaligus simbol hubungan manusia dengan hutan.


Di tengah arus modernisasi yang terus mengubah wajah Mentawai, asap tipis yang mengepul dari tungku Keisha setiap senja seolah menjadi pengingat bahwa selama kapurut masih dibakar di atas daun sagu, masih ada warisan leluhur yang bertahan—menghidupi keluarga, menjaga ingatan, dan merawat identitas sebuah masyarakat.


 

Tekno

Berita Mentawai

LIVE SASARAINA TV
×
Berita Terbaru Update