Notification

×

Iklan


 

Iklan

Ketidakpastian Ekonomi Menguji Keuangan Keluarga, Ini Strategi Bertahan yang Perlu Dilakukan

Sabtu, 04 Juli 2026 | Juli 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-04T14:02:13Z

Foto Ilustrasi

SASARAINAFM.MY.ID | JAKARTA - Meningkatnya harga sejumlah kebutuhan pokok, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, hingga melemahnya nilai tukar rupiah menjadi sinyal bahwa masyarakat perlu lebih waspada dalam mengelola keuangan. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kemampuan mengatur pengeluaran menjadi salah satu kunci agar kondisi finansial tetap aman.


Para perencana keuangan menilai, tantangan ekonomi saat ini bukan hanya soal menekan pengeluaran, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan. Langkah sederhana seperti menyusun anggaran, memperkuat dana darurat, hingga mencari sumber penghasilan tambahan dinilai mampu membantu masyarakat menghadapi situasi yang tidak menentu.


Dahulukan Kebutuhan Pokok


Perencana Keuangan Tatadana Consulting, Tejasari, mengatakan masyarakat perlu memusatkan pengeluaran pada kebutuhan yang benar-benar penting. Menurutnya, kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, serta biaya rumah tangga harus menjadi prioritas utama.


Ia menyarankan agar masyarakat mulai mengurangi kebiasaan membeli makanan di luar dan lebih sering memasak di rumah sebagai salah satu cara menekan pengeluaran.


Selain itu, pengeluaran yang bersifat spontan atau pembelian karena keinginan sesaat sebaiknya dihindari. Membuat daftar belanja dan menyusun anggaran bulanan dapat membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali.


Pandangan serupa disampaikan Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus mampu menyusun skala prioritas, dimulai dari kewajiban yang tidak bisa ditunda seperti membayar cicilan, tagihan listrik dan air, hingga biaya pendidikan anak.


Setelah seluruh kebutuhan pokok terpenuhi, barulah pengeluaran lain seperti hiburan dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.


Atur Porsi Pengeluaran Secara Seimbang


Dalam mengelola pendapatan, Tejasari menyarankan pembagian anggaran yang proporsional. Sekitar 40 persen pendapatan dapat dialokasikan untuk kebutuhan rutin, maksimal 30 persen untuk cicilan utang, sedikitnya 10 persen untuk tabungan atau investasi, sementara sisanya sekitar 20 persen digunakan untuk kebutuhan pribadi.


Namun, komposisi tersebut tidak bersifat mutlak. Bagi mereka yang tidak memiliki cicilan, porsi tabungan maupun investasi bisa ditingkatkan agar tujuan keuangan lebih cepat tercapai.


Sementara itu, Andy Nugroho menawarkan skema berbeda dengan mengalokasikan sekitar 55 persen pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk cicilan, masing-masing 10 persen untuk tabungan atau investasi, dana darurat, pengembangan diri, dan hiburan, serta 5 persen untuk kegiatan sosial atau donasi.


Dana Darurat Menjadi Tameng Keuangan


Di tengah ketidakpastian ekonomi, dana darurat memiliki peran yang semakin penting. Dana ini dapat menjadi penyelamat ketika menghadapi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, maupun kebutuhan mendesak lainnya.


Idealnya, dana darurat mencapai tiga hingga enam kali jumlah pengeluaran bulanan. Untuk mencapainya, masyarakat dapat menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin, misalnya sekitar 10 persen setiap bulan.


Tejasari juga menyarankan agar dana tersebut ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan, seperti tabungan, deposito, emas, atau reksa dana pasar uang sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.


Kurangi Ketergantungan pada Utang


Di tengah potensi kenaikan suku bunga, utang konsumtif berisiko menjadi beban yang semakin berat. Karena itu, masyarakat disarankan untuk tidak menambah pinjaman baru, terutama yang digunakan untuk memenuhi gaya hidup atau kebutuhan yang tidak mendesak.


Bagi yang masih memiliki utang, melakukan restrukturisasi atau mempercepat pelunasan utang dengan bunga tinggi dapat menjadi langkah yang lebih aman demi menjaga kondisi keuangan tetap sehat.


Lindungi Keuangan dengan Asuransi dan Investasi


Selain menabung, perlindungan melalui asuransi juga menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan. Asuransi dapat membantu mengurangi beban finansial apabila terjadi risiko seperti sakit atau kecelakaan.


Sementara itu, bagi masyarakat yang kondisi keuangannya sudah lebih stabil, investasi dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan aset. Instrumen seperti emas dan reksa dana pasar uang dinilai relatif lebih stabil dibandingkan investasi berisiko tinggi ketika kondisi ekonomi sedang bergejolak.


Meski demikian, masyarakat diingatkan untuk memilih produk investasi yang legal serta berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk dana simpanan, sebaiknya disimpan di bank peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) agar memperoleh perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku.


Bangun Penghasilan Tambahan dan Tingkatkan Literasi Keuangan


Mengandalkan satu sumber pendapatan dinilai semakin berisiko di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Karena itu, masyarakat didorong untuk memanfaatkan keterampilan maupun hobi sebagai peluang memperoleh penghasilan tambahan.


Kemajuan teknologi digital membuka banyak kesempatan, mulai dari bekerja sebagai freelancer, menjalankan usaha rumahan, hingga memasarkan produk secara daring dengan modal yang relatif kecil.


Selain meningkatkan pendapatan, memperluas wawasan mengenai pengelolaan keuangan juga menjadi langkah penting. Dengan literasi keuangan yang baik, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengatur pengeluaran, menabung, berinvestasi, maupun mengelola risiko keuangan.


Pada akhirnya, disiplin dalam menjalankan anggaran, membangun dana darurat, serta membiasakan diri hidup sesuai kemampuan menjadi fondasi utama agar kondisi keuangan tetap kuat menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang masih membayangi.(de'dio)


 

🎬 SASARAINA TV

Tekno

×
Berita Terbaru Update