Notification

×

Iklan


 

Iklan

Menyusuri Jejak Peradaban Mentawai, Ketika Tradisi Leluhur Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Minggu, 05 Juli 2026 | Juli 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-05T10:03:22Z




SASARAINAFM.MY.ID | MENTAWAI –
Di balik ombak kelas dunia, hutan hujan tropis yang masih alami, dan gugusan pulau yang memikat wisatawan, Kepulauan Mentawai menyimpan kekayaan lain yang tak kalah berharga. Bukan hanya panorama alamnya, tetapi juga sebuah peradaban tua yang hingga kini tetap bertahan melalui adat, tradisi, dan cara hidup masyarakatnya.


Terletak di lepas pantai barat Sumatera, Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari empat pulau utama, yakni Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Para ahli meyakini nenek moyang Suku Mentawai telah menetap di wilayah ini sejak sekitar 2.000 hingga 500 tahun sebelum Masehi. Selama ribuan tahun, masyarakat Mentawai membangun kebudayaan yang unik dan berbeda dari suku-suku lain di Nusantara.


Di tengah derasnya arus globalisasi, identitas budaya Mentawai tetap terjaga. Tato tradisional yang mendunia, rumah adat Uma, keberadaan Sikerei sebagai tabib sekaligus pemimpin spiritual, hingga tarian Turuk Laggai masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.


Keunikan tersebut bahkan telah mendapat pengakuan nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI). Sebelumnya, Tato Mentawai ditetapkan pada 2014, disusul Sikerei pada 2019, Uma pada 2020, serta Kirekat dan Pasikut Abag pada 2022.


Tidak berhenti di situ, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat kembali mengusulkan sejumlah tradisi Mentawai yang akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2023. Tujuh budaya tersebut meliputi Pangurei, Panunggru Mentawai, Pasipiat Sot, Opa, Mone, Turuk Laggai, dan Gajeumak.


Pangurei, Pernikahan yang Menyatukan Dua Keluarga Besar

Pangurei, Pernikahan yang Menyatukan Dua Keluarga Besar


Bagi masyarakat Mentawai, pernikahan bukan hanya ikatan antara dua insan, melainkan penyatuan dua kelompok kekerabatan. Karena itu, Pangurei menjadi upacara adat yang wajib dilaksanakan sebagai bentuk pengesahan sebuah perkawinan menurut hukum adat.


Selama Pangurei belum digelar, pasangan pengantin belum dianggap sepenuhnya menjadi bagian dari keluarga besar. Mereka bahkan belum memperoleh hak adat, termasuk menerima hasil panen maupun hasil buruan dari keluarga pihak perempuan.


Prosesi ini melibatkan seluruh anggota suku dan menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap ikatan kekeluargaan yang diwariskan turun-temurun.


Tradisi Panunggru menjadi bagian penting dalam masa berkabung. Melalui ritual ini, keluarga memberikan penghormatan kepada leluhur sekaligus memohon ketenangan bagi arwah yang telah meninggal.



Panunggru, Menghormati Mereka yang Telah Pergi


Bagi masyarakat Mentawai, kematian bukan berarti putusnya hubungan antara orang yang meninggal dengan keluarga yang masih hidup.


Tradisi Panunggru menjadi bagian penting dalam masa berkabung. Melalui ritual ini, keluarga memberikan penghormatan kepada leluhur sekaligus memohon ketenangan bagi arwah yang telah meninggal.


Berbagai simbol berkabung dilakukan, mulai dari memotong sebagian rambut, melepas perhiasan, hingga memotong bagian tertentu dari sampan keluarga. Setiap bentuk potongan memiliki makna berbeda, tergantung siapa anggota keluarga yang meninggal.


Tradisi ini mencerminkan betapa dalamnya penghormatan masyarakat Mentawai terhadap hubungan kekeluargaan dan keseimbangan antara manusia dengan dunia spiritual.



Pasipiat Sot, Filosofi Kecantikan yang Menyatu dengan Jiwa


Salah satu tradisi paling terkenal dari Mentawai adalah Pasipiat Sot, yaitu tradisi meruncingkan gigi perempuan.



Bagi masyarakat luar, tradisi ini mungkin terlihat unik. Namun bagi perempuan Mentawai, Pasipiat Sot bukan sekadar simbol kecantikan.


Tradisi tersebut dipercaya mampu menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa, menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia, sekaligus menjadi penanda bahwa seorang perempuan telah memasuki fase kedewasaan.


Tas unik warisan nenek moyang Suku Mentawai berbentuk keranjang dari rotan dan kulit daun sagu yang ringan. Foto: IST

Opa, Tas Tradisional yang Lahir dari Kehidupan Hutan


Masyarakat Mentawai hidup berdampingan dengan alam. Dari alam pula lahir berbagai perlengkapan hidup yang sederhana namun sangat fungsional.


Salah satunya adalah Opa atau O'orek, keranjang tradisional berbahan rotan dan kulit daun sagu yang dikenakan di punggung.


Tas tradisional ini memudahkan masyarakat membawa hasil kebun, buruan, maupun hasil hutan melewati medan yang berat, mulai dari jalan berlumpur, lereng curam, hingga hutan lebat.


Mone merujuk kepada hutan dan ladang, sedangkan mone dalam arti luas harta di suatu Uma. Foto: IST

Mone, Cara Leluhur Mengelola Alam Secara Berkelanjutan


Kearifan masyarakat Mentawai juga tercermin dalam konsep Mone, yakni sistem pengelolaan hutan dan ladang yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.


Melalui Mone, masyarakat memanfaatkan hasil alam secara bijaksana tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Berbagai tanaman pangan, obat-obatan, hingga hasil hutan dikelola sebagai sumber kebutuhan sehari-hari maupun penghasilan keluarga.


Nilai-nilai tersebut menjadikan Mone sebagai salah satu bentuk pengetahuan tradisional yang relevan dengan konsep pelestarian lingkungan masa kini.


Tarian tradisional ini menampilkan gerakan yang meniru perilaku berbagai satwa di hutan seperti burung elang, monyet, ayam hutan, dan hewan lainnya.

Turuk Laggai, Tarian yang Menirukan Irama Alam


Tak ada budaya Mentawai tanpa Turuk Laggai.


Tarian tradisional ini menampilkan gerakan yang meniru perilaku berbagai satwa di hutan seperti burung elang, monyet, ayam hutan, dan hewan lainnya.


Bagi masyarakat Mentawai, hewan bukan sekadar sumber pangan, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dihormati.


Turuk Laggai terbagi menjadi dua jenis, yakni Turuk Sikerei yang bersifat sakral dalam upacara adat dan penyembuhan, serta Turuk Simatak yang lebih bersifat hiburan dalam kehidupan masyarakat.


Gerakan yang sederhana namun penuh makna menjadikan Turuk Laggai sebagai salah satu ikon budaya Mentawai yang dikenal hingga mancanegara.


Memanaskan Gajeumak 

Gajeumak, Denting Musik yang Menghidupkan Upacara Adat


Suasana upacara adat Mentawai tak akan lengkap tanpa bunyi Gajeumak atau Kateubak, alat musik pukul tradisional yang dibuat dari batang pohon enau, kulit binatang, dan rotan.


Biasanya tiga buah Gajeumak dimainkan secara bersamaan sehingga menghasilkan irama yang khas dan harmonis. Alunan musiknya mengiringi berbagai ritual adat, pesta rakyat, hingga pertunjukan budaya.


Di balik bunyinya yang sederhana, Gajeumak menjadi simbol kebersamaan sekaligus media untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.


Warisan yang Terus Dijaga


Bagi masyarakat Mentawai, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Setiap tradisi yang masih dijalankan hari ini merupakan bagian dari identitas, cara hidup, serta hubungan manusia dengan alam dan leluhurnya.


Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Namun, pelestarian sesungguhnya tetap berada di tangan masyarakat yang terus mewariskan nilai-nilai itu kepada generasi berikutnya.


Di tengah perubahan zaman, Kepulauan Mentawai membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru dari tradisi yang tetap hidup itulah, Mentawai dikenal dunia sebagai salah satu peradaban budaya paling autentik di Indonesia.(de'dio)


 

🎬 SASARAINA TV

Tekno

×
Berita Terbaru Update