![]() |
| Wayang Kulit Jadi Senjata Baru Komdigi Edukasi Lansia Hadapi Hoaks dan Penipuan Digital (Foto Ilustrasi) |
Inovasi tersebut diwujudkan melalui talkshow literasi digital bertajuk "Sapa Lansia: Tetap Terhubung, Bahagia dan Anti Gaptek" yang dipadukan dengan pagelaran wayang kulit lakon "Banjaran Bismo" di Auditorium LPP RRI Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan yang digagas Pusat Pengembangan Literasi Digital Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun ketahanan digital bagi kelompok lanjut usia, yang kini semakin aktif menggunakan teknologi namun juga semakin rentan menjadi sasaran penyebaran informasi palsu hingga berbagai modus kejahatan siber.
Kepala BPSDM Komdigi, Bonifasius W. Pudjianto, dijadwalkan menjadi pembicara utama untuk memaparkan berbagai langkah pemerintah dalam menciptakan ruang digital yang aman, inklusif, dan ramah bagi masyarakat lanjut usia.
Menurut Komdigi, kemampuan digital kini tidak lagi menjadi kebutuhan generasi muda semata. Lansia juga semakin bergantung pada perangkat digital untuk berkomunikasi dengan keluarga, mengakses layanan kesehatan, melakukan transaksi keuangan, hingga memperoleh informasi sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan literasi digital agar mereka mampu mengenali berbagai bentuk manipulasi informasi dan penipuan di dunia maya.
Alih-alih menggunakan pendekatan yang kaku, Komdigi memanfaatkan wayang kulit sebagai media komunikasi yang dekat dengan kehidupan generasi lansia. Melalui cerita, dialog, dan nilai-nilai yang terkandung dalam pewayangan, pesan tentang keamanan digital diharapkan lebih mudah dipahami sekaligus membekas dalam ingatan para peserta.
Peran media publik juga diperkuat dalam kegiatan ini. Ketua Dewan Pengawas RRI Jakarta, Anwar Mujahid A.T., turut ambil bagian sebagai bentuk dukungan terhadap penyebarluasan informasi yang inklusif dan mudah dijangkau oleh masyarakat usia lanjut.
Sementara itu, Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menilai literasi digital bagi lansia merupakan investasi sosial yang penting. Peningkatan kemampuan digital bukan hanya membantu mereka beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi juga menjaga kemandirian, rasa percaya diri, dan kualitas hidup di usia senja.
Momentum tersebut juga diwarnai dengan pembacaan Deklarasi Lansia Indonesia "Maju Bersama, Berdaya di Usia Senja", sebagai komitmen bersama untuk melawan hoaks, penipuan daring, dan berbagai bentuk manipulasi informasi di ruang digital.
Menjelang dimulainya pertunjukan, tokoh wayang diserahkan kepada Ki Dalang Bambang Asmoro sebagai simbol dimulainya edukasi berbasis budaya. Di sela-sela pementasan, dalang juga berdialog secara interaktif dengan perwakilan Siberkreasi, Donny Budi Utoyo, untuk menyisipkan berbagai pesan literasi digital secara ringan, komunikatif, dan mudah dipahami oleh para penonton.
Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat tanpa dipungut biaya dan dapat disaksikan secara langsung melalui RRI Jakarta 92,8 FM, kanal YouTube RRI Jakarta, maupun layanan live streaming Channel Jowo TV.
Melalui perpaduan antara kearifan budaya dan edukasi digital, Komdigi ingin memastikan transformasi digital tidak meninggalkan kelompok lanjut usia. Sebaliknya, para lansia diharapkan semakin percaya diri memanfaatkan teknologi sekaligus memiliki bekal untuk mengenali dan menghindari berbagai ancaman yang mengintai di ruang digital.(de'dio)


