![]() |
| Pengembangan teknologi 6G BRIN ( Foto ai generate) |
Penelitian tersebut dilakukan oleh Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) BRIN, yang saat ini mengembangkan berbagai desain antena untuk mendukung kebutuhan jaringan 6G. Berbeda dengan pengembangan generasi sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada peningkatan kecepatan internet, teknologi 6G menuntut inovasi menyeluruh pada perangkat komunikasi, terutama antena sebagai komponen utama dalam proses pengiriman dan penerimaan sinyal.
Peneliti PRT BRIN, Yohanes Galih Adhiyoga, menjelaskan salah satu teknologi yang tengah dikembangkan adalah antena mikrostrip multilayer, yang dinilai mampu menghasilkan penguatan sinyal (gain) lebih tinggi sekaligus mengendalikan pola radiasi secara lebih optimal.
"Riset tersebut turut dikembangkan PRT BRIN. Salah satu fokusnya adalah pengembangan antena mikrostrip, baik single-layer maupun multilayer, untuk menjawab kebutuhan komunikasi generasi mendatang," ujar Yohanes, seperti dikutip dari Detik, Kamis (2/4).
Menurut Yohanes, dalam sistem komunikasi 6G, antena tidak lagi menjadi komponen yang berdiri sendiri. Desainnya harus terintegrasi dengan berbagai perangkat elektronik aktif, seperti integrated circuit (IC), transistor, filter, hingga sistem pencatu daya dalam satu perangkat komunikasi.
Kondisi tersebut membuat proses pengembangan antena menjadi jauh lebih kompleks karena harus mampu bekerja secara optimal tanpa mengganggu maupun dipengaruhi komponen elektronik lainnya.
Ia menegaskan, riset 6G harus dimulai sejak sekarang agar Indonesia memiliki kesiapan teknologi ketika jaringan generasi keenam mulai diterapkan secara global.
"Saat ini, 5G memang masih dalam tahap pengembangan, tetapi riset tidak bisa berhenti di situ. Kita harus menyiapkan teknologi berikutnya," kata Yohanes.
Menurutnya, kehadiran 6G nantinya bukan sekadar pergantian nama dari generasi sebelumnya, melainkan menghadirkan peningkatan signifikan dalam kecepatan transfer data, latensi yang jauh lebih rendah, kapasitas jaringan lebih besar, serta performa komunikasi yang lebih baik.
Dalam riset yang dilakukan BRIN, berbagai tipe antena mikrostrip terus diuji untuk menghasilkan karakteristik yang berbeda sesuai kebutuhan. Sebagian dirancang agar memiliki gain tinggi dan pola radiasi yang lebih efisien, sementara desain lainnya difokuskan untuk menghasilkan bandwidth yang lebih luas.
Perbedaan karakteristik tersebut menunjukkan bahwa setiap desain memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing, sehingga pemilihannya harus disesuaikan dengan fungsi perangkat yang akan digunakan.
Yohanes menambahkan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya meningkatkan performa antena, tetapi juga memastikan komponen tersebut dapat terintegrasi dengan berbagai sistem komunikasi modern yang semakin kompleks, seperti smartphone dan perangkat Internet of Things (IoT).
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Nasrullah Armi, menilai perkembangan teknologi telekomunikasi akan terus membuka peluang besar bagi Indonesia. Karena itu, ia mendorong mahasiswa dan generasi muda mulai mempersiapkan diri untuk terjun dalam bidang riset komunikasi generasi berikutnya.
"Kesempatan di bidang ini masih sangat luas. Mahasiswa perlu mulai menentukan minat sejak sekarang, karena riset 6G akan terus berkembang dan membutuhkan banyak talenta," ujar Nasrullah.
Melalui riset antena 6G yang terus dikembangkan, BRIN berharap Indonesia dapat memiliki kemampuan teknologi yang lebih mandiri sekaligus meningkatkan daya saing nasional dalam menghadapi era komunikasi digital berkecepatan tinggi di masa depan. (de'dio)



.png)