![]() |
| Joshua dari Mentawai ke Bosscha Bersama Rektor ITB dan Astronom yang Namanya Diabadikan di Langit |
Belum resmi memulai perkuliahannya, Joshua telah memperoleh kesempatan istimewa yang bahkan menjadi impian banyak mahasiswa baru. Ia diajak mengunjungi Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, observatorium astronomi modern tertua di Indonesia sekaligus Asia Tenggara.
Dalam kunjungan tersebut, Joshua disambut langsung oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., bersama Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Dr. Aep Patah, S.Si., M.Si., Ph.D. Keduanya memperkenalkan dunia astronomi secara lebih dekat kepada mahasiswa baru asal Kepulauan Mentawai tersebut.
Tak sekadar berkeliling melihat fasilitas penelitian astronomi, Joshua juga memperoleh pengalaman yang sangat langka. Ia berkesempatan berdialog dengan sejumlah astronom Indonesia yang reputasinya telah mendunia dan bahkan namanya diabadikan sebagai nama asteroid.
Para astronom yang hadir di antaranya Prof. Dr. Dhani Herdiwijaya, Wakil Kepala Observatorium Bosscha Bidang Eksternal yang namanya telah diabadikan menjadi asteroid, Prof. Taufiq Hidayat, penanggung jawab proyek VGOS yang juga memiliki asteroid atas namanya, Dr. Budi Dermawan, Wakil Kepala Observatorium Bosscha Bidang Internal, Dr.rer.nat. Hesti Wulandari, Kepala Observatorium Bosscha, serta Yatny Yulianty, M.Si., Koordinator Public Outreach Observatorium Bosscha.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasubdirektorat Humas dan Publikasi ITB, D.Sc.(Tech.) Ir. Imam Santoso, S.T., M.Phil., bersama sejumlah civitas akademika ITB yang memperkenalkan berbagai fasilitas penelitian dan edukasi astronomi kepada Joshua.
Bagi putra pasangan Janius Sababalat dan Mertina itu, pengalaman tersebut menjadi momen yang sulit dilupakan. Dari sebuah dusun kecil di Pulau Sipora, ia kini berdiri di pusat perkembangan astronomi nasional, berdampingan dengan para ilmuwan yang telah membawa nama Indonesia dikenal di dunia internasional.
Kunjungan ke Observatorium Bosscha juga menjadi kelanjutan perhatian ITB terhadap mahasiswa barunya asal Kepulauan Mentawai. Sebelumnya, pada 24 Juni 2026, tim ITB rela menempuh perjalanan panjang sekitar empat jam menyeberangi laut dari Padang menuju Kepulauan Mentawai, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Dusun Mapaddegat, Desa Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, untuk menemui Joshua dan keluarganya setelah dinyatakan lolos melalui jalur prestasi.
Saat kunjungan tersebut, Rektor ITB belum sempat hadir secara langsung. Namun, pertemuan di Observatorium Bosscha akhirnya menjadi momen yang melengkapi perjalanan inspiratif Joshua menuju dunia akademik.
Keberhasilan Joshua mencatat sejarah sebagai putra Mentawai pertama yang diterima di Program Studi Astronomi ITB melalui jalur prestasi menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga, masyarakat Kepulauan Mentawai, hingga Sumatera Barat. Prestasi itu sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan di perguruan tinggi terbaik Indonesia.
Pilihan Joshua menekuni astronomi pun memiliki makna yang begitu erat dengan identitas masyarakat kepulauan. Sejak dahulu, langit dan gugusan bintang menjadi penunjuk arah bagi para pelaut Mentawai dalam mengarungi lautan. Kini, pengetahuan yang dahulu diwariskan secara tradisional akan dipelajari Joshua melalui pendekatan sains modern.
Dari langit yang selama ini menjadi penuntun perjalanan masyarakat Mentawai, Joshua kini melangkah lebih jauh untuk memahami rahasia alam semesta. Harapannya, suatu hari nanti ia tidak hanya menjadi astronom kebanggaan Mentawai, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu astronomi Indonesia dan menginspirasi generasi muda dari daerah terpencil agar berani bermimpi setinggi bintang. (de'dio)



.png)
