Notification

×

Iklan


 

Iklan

Dari AI hingga Budaya Mentawai, Inovasi Fojiano Antarkan SDN 11 Tuapejat Raih Prestasi

Kamis, 27 Agustus 2026 | Agustus 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-26T17:41:34Z

Dari AI hingga Budaya Mentawai, Inovasi Fojiano Antarkan SDN 11 Tuapejat Raih Prestasi

SASARAINAFM.MY.ID | MENTAWAI – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak selalu identik dengan dunia industri dan teknologi modern. Di sebuah ruang kelas di SDN 11 Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, teknologi justru dimanfaatkan untuk membuat proses belajar menjadi lebih hidup, interaktif, dan dekat dengan identitas budaya lokal.


Melalui inovasi pembelajaran yang memadukan media virtual 3D, Papan Interaktif Digital, video animasi berbasis AI, serta unsur budaya Mentawai, seorang guru bernama Fojiano, S.Pd. berhasil meraih prestasi sebagai pemenang Lomba Guru Berprestasi dan Berinovasi dalam Menciptakan Pembelajaran yang Kreatif dan Inspiratif Tahun 2026 Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Kepulauan Mentawai.



Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Jop Sirirui, usai pelaksanaan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan dapat lahir dari ruang kelas, bahkan di wilayah kepulauan, ketika kreativitas guru bertemu dengan perkembangan teknologi dan kekayaan budaya daerah.


Berawal dari Tantangan di Dalam Kelas


Inovasi yang dikembangkan Fojiano tidak muncul begitu saja. Gagasan tersebut berangkat dari berbagai persoalan yang ditemukannya dalam proses pembelajaran.


Masih terdapat peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi. Selain itu, metode pembelajaran konvensional dinilai belum sepenuhnya mampu menarik minat seluruh peserta didik.


Berbagai faktor juga turut memengaruhi proses belajar, mulai dari lingkungan keluarga, keterbatasan bahan bacaan, hingga perkembangan dunia digital yang membawa peserta didik semakin dekat dengan berbagai konten di media sosial.


Dari persoalan tersebut, Fojiano kemudian mencoba mencari pendekatan baru.


Teknologi yang selama ini sering digunakan sebagai sarana hiburan, mulai ia arahkan menjadi bagian dari media pembelajaran yang mampu membantu peserta didik memahami materi secara visual, interaktif, dan lebih kontekstual.


“Teknologi dapat kita manfaatkan sebagai media pembelajaran, tetapi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan konteks budaya daerah,” ujar Fojiano.


Menggabungkan Virtual 3D, AI dan Budaya Mentawai


Inovasi yang diusung Fojiano memiliki judul:


“Peningkatan Minat Belajar Murid serta Kemampuan Literasi dan Numerasi melalui Pemanfaatan Media Virtual 3D pada Papan Interaktif Digital dan Pembuatan Video Animasi Pembelajaran Menggunakan AI Berbasis Budaya Mentawai di Kelas VI SDN 11 Tuapejat.”


Konsep tersebut menggabungkan berbagai media digital ke dalam proses pembelajaran.


Melalui Papan Interaktif Digital, peserta didik dapat melihat materi pembelajaran dalam bentuk visual yang lebih konkret. Salah satunya melalui aplikasi Human Body yang digunakan dalam pembelajaran IPAS untuk membantu siswa mempelajari struktur rangka manusia.


Media virtual juga digunakan dalam pembelajaran Matematika, khususnya untuk membantu peserta didik memahami konsep bangun ruang.


Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya melihat gambar dua dimensi di buku, tetapi dapat memperoleh pengalaman belajar melalui visualisasi objek secara digital.


Inovasi kemudian dikembangkan lebih jauh melalui pembuatan video animasi pembelajaran berbasis AI.


Dalam proses pembuatannya, Fojiano memanfaatkan sejumlah platform, di antaranya Google Gemini, Pipit AI, dan Google AI Studio. Ia merancang sendiri prompt atau perintah yang disesuaikan dengan materi dan capaian pembelajaran.


Namun, yang membuat inovasi tersebut memiliki ciri khas adalah masuknya unsur budaya Mentawai ke dalam video pembelajaran.


Aksesori budaya, bahasa, serta konteks kehidupan masyarakat Mentawai diintegrasikan ke dalam materi animasi sehingga peserta didik dapat belajar dengan teknologi modern tanpa kehilangan kedekatan dengan lingkungan dan identitas daerahnya.


Video pembelajaran tersebut kemudian disunting menggunakan sejumlah aplikasi seperti Canva, InShot, dan CapCut.


Dari Menonton Menjadi Aktif Belajar



Pemanfaatan teknologi tidak berhenti pada penyajian materi.


Dalam proses pembelajaran, guru terlebih dahulu memberikan pertanyaan pemantik kepada peserta didik. Selanjutnya, siswa mengikuti penjelasan materi melalui media virtual dan video animasi yang ditampilkan pada Papan Interaktif Digital.


Setelah itu, peserta didik dibagi ke dalam kelompok.


Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi diberi kesempatan untuk memahami materi, berdiskusi, menjelaskan kembali, hingga mempresentasikan hasil pemahaman mereka di depan kelas.


Pendekatan tersebut sekaligus melatih keberanian berbicara, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, serta kemampuan menyampaikan informasi.


Pada akhir pembelajaran, peserta didik mengikuti asesmen, kemudian bersama guru melakukan umpan balik dan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari.


Literasi dan Numerasi Mulai Menunjukkan Peningkatan


Penerapan inovasi tersebut memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran.


Peserta didik mulai lebih aktif dalam berdiskusi, bertanya, menjelaskan, dan mempresentasikan pemahaman mereka. Kemampuan dalam memahami objek dan media virtual juga menunjukkan perkembangan.


Hasil asesmen setelah proses pembelajaran menunjukkan nilai peserta didik berada di atas standar ketuntasan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan.


Lebih dari sekadar nilai, perubahan juga terlihat dari suasana kelas yang menjadi lebih aktif dan menarik.


Teknologi tidak lagi hanya menjadi alat yang digunakan guru untuk menyampaikan materi, tetapi menjadi media yang mendorong peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses belajar.


Teknologi sebagai Media, Budaya sebagai Identitas


Bagi Fojiano, kemajuan teknologi tidak harus membuat peserta didik semakin jauh dari budaya daerah.


Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan kembali identitas lokal kepada generasi muda.


Melalui video animasi berbasis AI yang memasukkan unsur budaya Mentawai, peserta didik dapat mengenal teknologi sekaligus memahami lingkungan, kehidupan, dan budaya daerahnya sendiri.


Pendekatan tersebut menjadikan proses pembelajaran lebih kontekstual karena materi yang dipelajari tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.


Dipilih Melalui Seleksi Berjenjang


Prestasi Fojiano diraih melalui proses seleksi calon guru berprestasi yang dilakukan secara berjenjang.


Setiap kepala sekolah SD negeri maupun swasta se-Kabupaten Kepulauan Mentawai mengusulkan satu orang guru dari satuan pendidikan masing-masing.


Guru yang diusulkan merupakan pendidik yang dinilai memiliki dedikasi, inovasi, kreativitas, kinerja, serta kontribusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan.


Dari proses tersebut, Fojiano dinilai memiliki inovasi pembelajaran yang relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, terutama dalam upaya meningkatkan minat belajar serta kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Jop Sirirui, berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi guru-guru lainnya untuk terus meningkatkan kualitas dan kemampuan berinovasi.


Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa guru di Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki kemampuan untuk menghadirkan berbagai inovasi kreatif dalam memotivasi peserta didik.


Ia juga mengingatkan agar penghargaan yang diterima tidak menjadi titik akhir dari perjalanan seorang guru.


“Selamat kepada guru yang telah menerima penghargaan ini. Jangan pernah merasa bangga hanya atas penghargaan ini, teruslah berkarya dan memberikan yang terbaik terhadap dunia pendidikan,” pesannya.


Prestasi yang Diharapkan Menjadi Inspirasi


Bagi Fojiano, penghargaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi.


Inovasi yang telah dikembangkan di SDN 11 Tuapejat diharapkan dapat menjadi praktik baik dan memberikan inspirasi bagi guru-guru lain yang menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan minat belajar, literasi, dan numerasi peserta didik.


“Semoga praktik baik ini dapat memberikan sedikit solusi bagi rekan-rekan guru yang menghadapi permasalahan terkait peningkatan minat belajar murid serta peningkatan kemampuan literasi dan numerasi,” ujar Fojiano.


Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berinovasi.


Dari sebuah ruang kelas di Mentawai, teknologi AI, media virtual, kreativitas guru, dan kekayaan budaya lokal dipadukan menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna.


Prestasi Fojiano bersama SDN 11 Tuapejat pun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk terus berinovasi dan menjawab tantangan pendidikan di era digital tanpa meninggalkan identitas budaya daerah.


Sebab, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan bukan hanya tentang menyiapkan generasi untuk menghadapi masa depan, tetapi juga memastikan mereka tetap mengenal akar dan identitas budayanya.


 

Tekno

Berita Mentawai

LIVE SASARAINA TV
×
Berita Terbaru Update