Notification

×

Iklan


 

Iklan

Indonesia Bersiap Sambut 6G, Komdigi Mulai Siapkan Spektrum Frekuensi Baru

Sabtu, 11 Juli 2026 | Juli 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-11T09:49:46Z

Foto Ilustrasi iStockphoto/sompong_tom

SasarainaFM.My.id | JakartaDunia mulai mempersiapkan era jaringan seluler generasi keenam atau 6G yang diproyeksikan hadir secara komersial dalam beberapa tahun mendatang. Di tengah persiapan global tersebut, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan tidak kembali tertinggal seperti saat adopsi teknologi 5G.


Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menilai pemerintah perlu mulai menyiapkan regulasi, spektrum frekuensi, serta ekosistem pendukung sejak sekarang agar Indonesia siap memasuki era 6G ketika teknologi tersebut mulai diterapkan secara luas.


"Kita kan suka lelet. Makanya kita mesti kerjakan sekarang. Kalau tidak direncanakan dengan baik, nanti ketika dunia sudah siap, kita kembali tertinggal," ujar Sarwoto, seperti dikutip dari CNBC, Kamis (9/7).


Menurutnya, pengalaman pengembangan jaringan 5G seharusnya menjadi pelajaran penting. Teknologi tersebut sebenarnya telah dikembangkan di laboratorium sejak 2012 dan mulai diterapkan secara komersial di sejumlah negara pada 2017. Namun, Indonesia baru meluncurkan layanan 5G pada 2021 melalui Telkomsel.


Hingga kini, tingkat penetrasi jaringan 5G di berbagai negara telah melampaui 70 persen. Sebaliknya, pemanfaatan 5G di Indonesia masih berada di bawah 10 persen sehingga pengembangannya dinilai belum optimal.


Meski demikian, Sarwoto menilai Indonesia tidak harus terpaku mengejar ketertinggalan 5G apabila mampu mempersiapkan transisi menuju 6G secara matang. Menurutnya, keberhasilan teknologi baru akan sangat ditentukan oleh kebutuhan masyarakat serta dunia usaha.


"Kalau 6G mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi kegiatan ekonomi maupun non-ekonomi, maka pasar akan menentukan arah perkembangannya," katanya.


Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut kesiapan jaringan 6G tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ketersediaan spektrum frekuensi radio yang memadai.


Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menjelaskan kapasitas spektrum seluler nasional setelah lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz diperkirakan mencapai sekitar 712 MHz.


Namun, kebutuhan spektrum untuk mengoperasikan jaringan 6G diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, pemerintah harus membuka pita frekuensi baru agar implementasi layanan 6G dapat berjalan secara optimal.


"Artinya kita harus mengeluarkan frekuensi baru. Kalau pakai frekuensi existing, tidak cukup, tidak proper," kata Adis seperti dikutip dari Antara.


Menurut Komdigi, setiap operator telekomunikasi diperkirakan memerlukan sekitar 200 MHz spektrum agar dapat mengoperasikan jaringan 6G secara maksimal. Sementara itu, pita frekuensi terbesar yang saat ini tersedia melalui mekanisme lelang hanya sekitar 190 MHz, sehingga dinilai belum memenuhi kebutuhan teknologi tersebut.


Komdigi kini tengah mengkaji sejumlah opsi spektrum baru, termasuk pita frekuensi 6 GHz yang dalam forum internasional mulai dipertimbangkan sebagai salah satu kandidat utama untuk layanan 6G menjelang World Radiocommunication Conference (WRC) 2027.


Persiapan sejak dini dinilai menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu membangun ekosistem digital yang kompetitif di era konektivitas generasi berikutnya.(de'dio)


 

🎬 SASARAINA TV

Tekno

×
Berita Terbaru Update