![]() |
| Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNN Provinsi Sumatera Barat, Rikawati Hutahaean. (Dok. RRI) |
Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNN Provinsi Sumatera Barat, Rikawati Hutahaean, mengatakan hasil Survei Nasional Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba 2025 mencatat angka penyalahgunaan narkoba mencapai 2,11 persen, meningkat dibandingkan 1,73 persen pada 2023. Secara jumlah, prevalensi tersebut setara dengan sekitar 4,15 juta penduduk Indonesia, naik dari sekitar 3,3 juta orang.
"Kalau dikatakan masih relevan, sangat relevan karena justru terjadi peningkatan angka penyalahgunaan narkoba. Dari 1,73 persen menjadi 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta penduduk. Angka ini sudah cukup tinggi sehingga edukasi pencegahan kepada generasi muda harus terus dilakukan," ujar Rikawati, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Rikawati, meningkatnya angka penyalahgunaan narkoba menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan tidak boleh berhenti. Edukasi kepada masyarakat, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa, dinilai menjadi benteng utama untuk mencegah semakin luasnya penyebaran narkotika.
Ia menjelaskan, pola peredaran narkoba kini juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya transaksi dilakukan secara terang-terangan, kini para pengedar menyamarkan narkotika dalam berbagai bentuk yang sulit dikenali, mulai dari makanan, minuman hingga cairan rokok elektronik atau vape.
Hasil survei juga menunjukkan kelompok usia 15 hingga 64 tahun menjadi sasaran penelitian, dengan tingkat kerentanan tertinggi berada pada kelompok usia 15–24 tahun dan 25–49 tahun.
Pada kelompok remaja, tingginya risiko dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang masih labil dan rasa ingin tahu yang besar. Sementara pada kelompok usia dewasa, penyalahgunaan narkoba lebih banyak dipicu tekanan pekerjaan, lingkungan pergaulan, hingga persoalan dalam kehidupan rumah tangga.
Selain memanfaatkan perkembangan teknologi, para pengedar juga menggunakan pendekatan persuasif untuk menjaring korban. Mereka menawarkan produk yang diklaim mampu membuat tubuh lebih langsing, lebih cantik, lebih percaya diri, bahkan lebih pintar, tanpa mengungkapkan bahwa produk tersebut mengandung zat narkotika.
"Mereka tidak akan mengatakan ini narkoba. Mereka merayu dengan iming-iming seperti membuat tubuh lebih langsing, lebih cantik, lebih berani, atau lebih pintar. Ditambah lagi adanya tekanan teman sebaya, sehingga banyak generasi muda yang akhirnya terjerumus," kata Rikawati.
BNN Provinsi Sumatera Barat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan sejak dini. Peran keluarga, sekolah, pemerintah, dan lingkungan sosial dinilai menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan generasi muda terhadap ancaman narkoba.
Melalui edukasi yang berkelanjutan serta kolaborasi semua pihak, BNN berharap lahir generasi muda yang sehat, berkarakter, dan mampu menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika di tengah semakin canggihnya modus peredaran yang digunakan para pelaku. (de'dio)




.png)